Feeds:
Posts
Comments

 

Sistem penilaian blok terdiri dari penilaian formatif dan Sumatif.

1. Penilaian Formatif

Penilaian formatif bertujuan mengetahui tingkat perkembangan mahasiswa dalam proses pembelajaran dan mahasiswa mendapatkan feedback dari dosen atau institusi terkait proses pemebelajaran tersebut. Penlaian ini adalah pra syarat untuk mengikuti ujian akhir blok.

Penilaian formatif terdiri dari:

a. Nilai Pelaksanaan Diskusi Tutorial

Pada diskusi tutorial mahasiswa akan dinilai berdasarkan cheklist yang ada. Untuk penilaian formatif meliputi tingkat kehadiran dan teknik berkomunikasi. Mahasiswa boleh tidak mengikuti tutorial dengan alasan yang dipertanggungjawabkan.

  1. AKTIVITAS SAAT DISKUSI

Dinilai dari frekuensi mengajukan pendapat/masukan/komentar/jawaban

40 = sangat aktif 20 = kurang aktif

30 = aktif 10 = pasif

  1. KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI

Dinilai dari kemampuan beriinteraksi dengan peserta lain: tidak emosional/memotong pembicaraan orang lain/mendominasi diskusi, tunjuk jari bila mau menyampaikan pendapat/bertanya, memperhatikan saat peserta lain berbicara

30 = sangat terampil 10 = kurang terampil

20 = terampil 5 = tidak terampil

  1. KEHADIRAN

Dinilai dari kehadiran peserta di dalam kelompoknya masing-masing

30 = datang tepat waktu 20 = terlambat 5-10 menit

10 = terlambat >15 menit

 

b. Nilai Praktikum

Tujuan praktikum adalah untuk memperkuat teori yang telah dikuliahkan atau ditutorialkan. Untuk menilai apakah mahasiswa memahami pengetahuan akan teori yang dipraktikumkan, maka bisa dilakukan dengan melakukan ujian praktikum, yang diintegrasikan ke dalam ujian teori (ujian akhir blok) sebagai nilai sumatif. Nilai pengetahuan ini dapat juga dilakukan dengan cara responsi atau dengan ujian praktikum tersendiri. Metode ujian praktikum diserahkan pada laboratorium masing-masing. Hasil penilaian praktikum berupa lulus atau tidak lulus didasarkan pada standar yang dibuat oleh laboratorium tempat praktikum dilaksanakan. Jika tidak lulus harus mengikuti ujian ulang, yang dilakukan oleh laboratorium maksimal 2 kali.

c. Nilai Sikap Profesional (professional behavior)

Nilai sikap profesional diperoleh dari penilaian sikap mahasiswa selama proses kegiatan diskusi tutorial, praktikum dan pelatihan skill lab. Penilaian menggunakan daftar tilik penilaian sikap profesional. Hasil penilaian berupa baik atau kurang baik.

2. Penilaian Sumatif

Penilaian sumatif didasarkan pada

  1. Nilai penugasan

penugasan merupakan tugas yang dibebankan pada mahasiswa melalui tugas mandiri yang telah terjadwal termasuk penilaian study skill. Tugas mandiri ini harus dinilai oleh tim blok atau dosen mata kuliah. Nilai penugasan merupakan nilai rata-rata dari seluruh jumlah penugasan. Nilai penugasan ini memberi kontribusi sebesar 10% dari nilai akhir blok.

  1. Ujian tulis Blok

dilakukan pada akhir blok, dengan metode tertulis berbentuk MCQ. Syarat agar dapat mengikuti ujian akhir blok adalah kehadiran perkuliahan minimal 80%, lulus ujian praktikum, kehadiran tutorial 100% (kecuali dengan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan). Nilai ujian tulis ini memberi kontribusi 40% dari nilai akhir blok.

  1. Ujian Skill lab (OSCE)

dilakukan tiap akhir blok dalam bentuk OSCE. Nilai ujian OSCE ini memberi kontribusi sebesar 30% dari nilai akhir blok.

  1. Nilai tutorial

yang dinilai adalah unsur pengetahuan dari pembicaraan berupa:

RELEVANSI PEMBICARAAN

Dinilai dari relevansi terhadap materi diskusi

100 = pembicaraan selalu relevan 40 = pembicaraan selalu tidak relevan

80 = pembicaraan kadang relevan 20 = pasif

60 = pembicaraan sering tidak relevan

Nilai tutorial ini memberi kontribusi sebesar 20% dari nilai akhir blok.

PROGRAM BELAJAR BERDASARKAN MASALAH (TUTORIAL)

 

1.      TUJUAN

Program belajar berdasarkan masalah (disingkat BBM) yang dalam pelaksanaanya dikenal sebagai tutorial bertujuan agar mahasiswa belajar aktif mandiri mencari sumber-sumber informasi dan literatur yang terkait dengan masalah yang sedang dihadapi. Tutor hanya berperan sebagai fasilitator dan pengarah bagi peserta didik serta memotivasi agar mahasiswa berusaha memecahkan masalah yang ia hadapi. Motivasi dan keaktifan mahasiswa merupakan kunci dari BBM ini. Untuk itu, perlu kiranya disusun modul yang berisi masalah guna mengarahkan materi belajar.

Belajar mandiri merupakan bagian vital dari cara BBM. Berdasarkan sasaran belajar yang telah ditetapkan, mahasiswa dituntut aktif untuk mencari informasi yang dibutuhkan mengenai topik yang didiskusikan. Di dalam modul ini telah tercantum bahan-bahan pokok yang wajib dibaca, tetapi tidak menutup kemungkinan masih dibutuhkan sumber-sumber lain yang diharapkan dapat menjelaskan permasalahan.

 

2.      KETENTUAN

A. Untuk Mahasiswa

Ketentuan Umum

  1. Belajar Berdasarkan Masalah selanjutnya disebut BBM merupakan program inovasi pembelajaran terhadap mahasiswa yang dilaksanakan oleh fakultas melalui tim pelaksana
  2. BBM memerlukan mahasiswa sebagai peserta didik, tutor sebagai dosen pengawas, pakar, serta satu modul yang berisi problem yang disesuaikan dengan blok-blok pada semester berjalan.
  3. Pelaksanaan BBM melalui serangkaian kegiatan tutorial sebanyak 2 kali dan belajar mandiri. Kuliah pakar untuk setiap blok dilakukan pada akhir blok.
  4. BBM memerlukan seperangkat evaluasi yang dibuat oleh kontibutor blok dan  dilaksanakan oleh tim blok.

 

 

Ketentuan Khusus

Ketentuan khusus berisi semua peraturan dan tata tertib yang mengikat kepada seluruh mahasiswa sebagai peserta didik yang mengikuti BBM.

a.              Seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah blok wajib mengikuti kegiatan tutorial dan melakukan registrasi sebagai calon peserta didik yang akan mengikuti program BBM.

b.              Mahasiswa wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan BBM dengan persentasi kehadiran 100%, ketidakhadiran diperbolehkan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan yaitu

a.       Sakit (harus ada surat sakit dari dokter)

b.      Tugas (harus ada surat tugas dari Rektor, Dekan atau PD I)

c.       Keluarga inti meninggal dunia (ijin dari keluarga)

Akan tetapi komponen nilai tutorial tetap kosong. Untuk ketidak hadiran yang

tidak bisa dipertanggung jawabkan, maka nilai etika (attitude) tutorial akan

dikurangi.

c.              Mahasiswa wajib datang tepat waktu, menggunakan pakaian yang sopan sesuai ketentuan, membawa buku blok (modul), membawa literatur, serta alat bantu pembelajaran (laptop, alat tulis menulis).

 

B. Untuk Tutor

1. Definisi Tutor

      Tutor adalah dosen tetap Fakultas Kedokteran UNLAM yang telah mendapatkan pelatihan dan ditunjuk sebagai tutor dengan Surat Penunjukkan dari Dekan FK UNLAM.

Seorang tutor yang baik (a good tutor) harus memiliki :

1. Pengetahuan  tentang :

  1.  
    1. teknik dan pengertian belajar mandiri
    2. mekanisme dinamika kelompok dan umpan balik terhadap kelompok
    3. tujuan pendidikan dokter secara keseluruhan
    4. penggunaan berbagai sumber belajar
    5. prinsip-prinsip dasar dan metode evaluasi
    6. langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran berdasarkan masalah, pemecahan masalah dan berfikir kritis pada mahasiswa
    7. berbagai peran pendidikan dan mampu menggunakannya
    8. sasaran belajar dari skenario yang akan didiskusikan

2. Sikap

      a. tutor mampu menunjukkan bahwa :

·        pendekatan problem based merupakan suatu metode yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis

·        pendekatan belajar mendiri merupakan tanggung jawab mahasiswa itu sendiri

·        tutorial kelompok kecil sebagai forum untuk menyatukan, mengarahkan dan umpan balik

b. tutor bertanggung jawab penuh dalam perannya sebagai tutor melalui :

·        mengikuti pelatihan, workshop dan pertemuan-pertemuan tutor

·        mengatur jadual pengajarannya secara pribadi sehingga dapat dilaksanakan dengan baik

·        menyediakan waktu untuk mahasiswa berkonsultasi

·        mendukung usaha-usaha koordinator program dalam menjamin evaluasi mahasiswa secara lengkap, berhubungan dengan tim perencana tentang masalah-masalah atau memberikan masukan untuk perbaikan

·        mengkoordinasikan aktivitas evaluasi mahasiswa selama waktu pengajaran

3. Skills

      Skill yang diperlukan oleh tutor :

a.       keahlian untuk menfasilitasi :

·        menanyakan pertanyaan secara tidak langsung pada pokok masalah, menstimulasi pertanyaan, memberikan penguatan kepada mahasiswa

·        memberikan tanggapan terhadap kesimpulan mahasiswa, pandangan yang berbeda dan isyarat-isyarat yang diperlukan

·        menunjukkan ketika diperlukan informasi tambahan

·        mengarahkan mahasiswa kepada sumber-sumber belajar yang tepat

·        menghindari kuliah (mini lecture) pada saat proses tutorial

b.      keahlian di dalam meningkatkan pemecahan masalah kelompok dan berpikir kritis mahasiswa dengan menganjurkan mahasiswa untuk :

·        menjelaskan rentang fenomena mulai dari tingkat molekul sampai pada keluarga dan komunitas

·        mengkritisi kejadian atau fakta-fakta yang mendukung hipotesis

·        mendefinisikan isu-isu dan mensintesis berbagai informasi

c.       keahlian di dalam meningkatkan belajar mandiri dengan cara:

·        membantu mahasiswa untuk membuat rencana belajar, mengingatkan tujuan mahasiswa dan program

·        membantu mahasiswa mengembangkan metode belajar meliputi pengumpulan sumber-sumber belajar

d.      keahlian dalam mengevaluasi mahasiswa dan mengatur evaluasi terhadap mahasiswa melalui :

1.      mengulang dan mengklarifikasi tujuan program  dengan proses tutorial

2.      membantu mahasiswa mendefinisikan tujuan pribadi

3.      membantu mahasiswa memilih metode evaluasi terhadap dirinya sendiri

4.      mengulang pencapaian hasil belajar dan menjamin mahasiswa memperoleh umpan balik

5.      menyiapkan laporan evaluasi kemajuan masing-masing individu mahasiswa meliputi komentar apakah mahasiswa tersebut telah atau belum mencapai tujuan pembelajaran dari program

2. Kewajiban Tutor

1.      Tutor wajib menjadi fasilitator dalam proses tutorial untuk 1 (satu) skenario dengan 2 kali pertemuan tutorial dan bertindak sebagai moderator apabila kelompok yang dibimbingnya presentasi dalam temu pakar.

2.      Tutor wajib hadir 15 menit sebelum kegiatan tutorial berlangsung untuk menyamakan persepsi dengan tutor lain,  mengisi daftar hadir  dan mengambil blanko penilaian

3.      Tutor wajib memberikan penilaian/evaluasi terhadap proses tutorial untuk masing-masing anggota kelompok yang dibimbingnya dan mengumpulkan hasil penilaian langsung setelah tutorial berakhir

 

3. Peran Tutor

1. Sebelum proses tutorial

o        Tutor mengerti latar belakang pentingnya belajar lewat BBM

o        Tutor harus paham tentang referensi yang telah disiapkan oleh planning group

o        Tutor berusaha untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang prior knowledge para mahasiswa

o        Mengetahui proses kognitif mahasiswa: konsep yang berkembang di anggota kelompok termasuk kemungkinan konflik di dalamnya

o        Memahami isi dan material secara menyeluruh: block book, tutor guide, sumber belajar

o        Pengetahuan tentang kurikulum

o        Pengetahuan tentang prior knowledge mahasiswa

o        Catatan-catatan tentang kelompok tutorial sebelumnya

2. Selama proses tutorial

  • Mengajukan pertanyaan dan “menantang” mahasiswa: penalaran, evaluasi kritis terhadap ide yang muncul, hipotesis
  • Mendorong mahasiswa untuk student-directed learning, collaborative dan elaborative  learning.
  • Memberi tanggapan, menciptakan iklim belajar yang nyaman, klarifikasi konsep dan proses
  • Menjaga proses diskusi tetap konsisten terhadap tujuan BBM
  • Memberi dorongan kepada moderator dan sekretaris kelompok untuk dapat menjalankan proses diskusi
  • Mendorong kelompok untuk membuat evaluasi terhadap kerjasama yang sedang berlangsung

3. Setelah proses tutorial

Ø      Memberi umpan balik kepada mahasiswa

Ø      Memberi kesempatan mahasiswa untuk melakukan refleksi (evaluasi terhadap diri mahasiswa sendiri)

Ø      Mengecek tingkat pengetahuan atau pemahaman mahasiswa terhadap hasil diskusi

Ø      Membuat catatan tentang kehadiran mahasiswa

 

C. Untuk Pakar

1. Definisi Pakar

      Pakar adalah orang yang memiliki keahlian di bidangnya dan ditunjuk oleh bagian atau koordinator BBM untuk memberikan materi, tanggapan pada saat diskusi pleno yang bersesuai dengan keahliannya tersebut.

2.Tugas Pakar

a.       Membuat materi tayang/ bahan presentasi sesuai dengan sasaran belajar yang akan dipresentasikan di depan mahasiswa pada saat diskusi pleno. Apabila waktu yang tersedia tidak cukup, maka bahan tersebut harus diberikan kepada mahasiswa sebagai salah satu bahan bacaan

b.      Mengikuti diskusi pleno dari awal hingga akhir

c.       Mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul pada saat diskusi pleno yang bersesuaian dengan keahliannya

d.      Memberikan tanggapan pada akhir diskusi dan mengklarifikasikan permasalahan yang muncul pada saat diskusi

 

3.      PROSEDUR STANDAR KEGIATAN

a.      Tutorial I

Tutorial merupakan kegiatan diskusi kelompok kecil yang dilakukan oleh peserta didik dengan dibimbing oleh tutor. Kelompok kecil ini terdiri dari 8 sampai dengan 10 orang peserta didik. Tutorial dilakukan sebanyak 2 kali yang berselang 2-4 hari.

Kegiatan dalam tutorial I adalah:

a.       Perkenalan (estimasi waktu 10 menit)

-         perkenalan tutor kepada peserta didik

-         perkenalan seluruh anggota kelompok

b.      Pemilihan moderator dan notulen (estimasi waktu 2 menit)

-         pemilihan moderator dan notulen dilakukan oleh peserta didik dengan dipimpin oleh tutor

-         moderator bertugas mengarahkan jalannya diskusi

-         notulen bertugas mencatat hasil diskusi

c.       Melakukan refresh terhadap 7 langkah (“7 jumps”) (estimasi waktu 5 menit) yaitu: 1) klarifikasi/identifikasi istilah dan konsep; 2) membuat daftar masalah; 3) menganalisis masalah; 4) pohon masalah (diagram masalah); 5) menentukan sasaran belajar; 6) belajar mandiri; 7) sintesis dan uji diri

d.      Melakukan diskusi kelompok (estimasi waktu 80 menit)

Kelompok terlebih dahulu mengambil keputusan apakah pembacaan skenario dilakukan secara tenang (membaca dalam hati) atau dibaca secara keras oleh seorang anggota kelompok. Selanjutnya, berdiskusi dengan tugas poin 1 sampai 5 dari “7 jumps” didampingi tutor.

1. Klarifikasi/identifikasi istilah (clarify terms)

Apakah istilah/konsep yang ada sudah dimengerti oleh setiap anggota grup, jadi semua anggota sudah satu pengertian tentang istilah-istilah atau konsep dimaksud. Dari istilah yang diidentifikasi, tentukan kata-kata kunci untuk kasus/skenario.

2. Membuat daftar masalah (define the problems)

Masalah dapat berupa semua istilah, fakta, fenomena, yang oleh kelompok masih perlu dijelaskan lebih lanjut. Cara yang mudah dengan jalan melontarkan pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin terhadap istilah, konsep, fakta, atau fenomena yang didapatkan dari permasalahan di dalam modul.

3. Menganalisis masalah (analyze the problems)

Kelompok berdiskusi mengenai masalah-masalah yang sudah didaftar dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki masing-masing (prior knowledge)

4. Mendaftar semua penjelasan terhadap poin 3 di atas secara sistematis lalu meringkasnya/problem tree (make a systematic inventory to the various explanations found in step 3, and  then summarize them)

Kelompok menjelaskan dan mendiskusikan masalah-masalah yang timbul dari poin 3 di atas. Bilamana masih ada penjelasan yang kurang atau belum dimengerti maka dijadikan sasaran belajar. Kemudian ringkaslah secara sistematis dengan membuat pohon masalah. 

5. Menetapkan sasaran belajar (formulate learning objectives)

Berdasarkan ringkasan poin 4, maka grup menentukan:

-         Apa saja yang harus dipelajari sebagai sasaran belajar untuk kegiatan mandiri

-         Sumber bacaan yang dapat diperoleh dari buku teks, buku, majalah ilmiah, nara sumber, laboratorium, skill-lab, spesimen patologis, computerized literature, dan internet

e.       Mengakhiri diskusi (estimasi waktu 3 menit)

Setelah peserta didik selesai berdiskusi, tutor memberikan kesempatan mahasiswa untuk refleksi diri dan memberikan umpan balik tentang bagaimana diskusi yang sudah berlangsung seperti: sistematika diskusi, partisipasi peserta didik dalam diskusi, serta membuat ringkasan hasil diskusi. Jika diperlukan tutor melakukan pengecekan  tingkat pemahaman peserta diskusi.

 

b.      Belajar Mandiri

Belajar mandiri (privat study) merupakan pelaksanaan poin 6 dari “7 jumps”. Ini merupakan bagian yang paling vital dari cara BBM. Peserta didik belajar dengan jalan mencari informasi yang diperlukan secara mandiri berdasarkan sasaran belajar yang telah ditetapkan. Dalam modul sudah dicantumkan bahan-bahan pokok yang wajib di baca. Selain itu, terdapat bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai acuhan yaitu buku teks, buku, majalah ilmiah, nara sumber, laboratorium, skill-lab, spesimen patologis, computerized literature, dan internet. Belajar mandiri dilaksanakan selama 1 minggu antara tutorial I dengan tutorial II.

 

c.       Tutorial II

Tutorial II dilaksanakan setelah peserta didik melaksanakan belajar mandiri dalam rentang 1 minggu. Pada tutorial II ini peserta didik melaksanakan poin 7 dari “7 jumps” yaitu sintesis dan uji diri (synthesize and test acquired information). Mahasiswa harus aktif mendengarkan dan berdiskusi, karena tujuan dari pertemuan kedua ini adalah guna mensintesis ilmu yang diperoleh dari belajar mandiri ditambah dengan ilmu yang diperoleh dari interaksi dengan peserta diskusi lain (collaborative dan ellaborative learning). Kegiatan dalam tutorial II ini adalah:

a.       Pemilihan moderator dan notulen (estimasi waktu 2 menit)

b.      Diskusi kelompok (estimasi waktu 100 menit):

-         moderator dan sekretaris memimpin diskusi

-         diskusi diawali dengan pembahasan terhadap satu sasaran belajar oleh salah satu peserta diskusi

-         anggota kelompok yang lain harus memberikan tanggapan dalam bentuk sanggahan, pertanyaan, maupun pemberian informasi lain yang menunjang dengan tidak lupa menyebutkan sumber referensinya

-         kelompok harus membuat analisis lengkap tentang masalah yang ada

-         apabila ada kesulitan yang tidak bisa dipecahkan maka hal itu dapat menjadi bahan diskusi dalam kuliah pakar

-         tutor harus memperhatikan jalannya diskusi, jangan sampai ada pembagian peran dan tugas diantara mahasiswa.

c.       Akhir diskusi

Setelah peserta didik selesai berdiskusi, tutor memberikan masukan tentang bagaimana diskusi yang sudah berlangsung seperti sistematika diskusi, partisipasi peserta didik dalam diskusi, serta membuat ringkasan hasil diskusi. Setelah tutorial II ini berakhir, tidak dengan sendirinya mahasiswa menguasai bahan-bahan dalam paket masalah tersebut, tetapi mahasiswa masih harus terus mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk melengkapi hasil diskusi.

 

d.      Temu Pakar dan Diskusi Pleno

Diskusi pleno dan temu pakar merupakan media komunikasi antara peserta didik dengan para pakar yang mempunyai kompetensi pada bidangnya untuk menjawab permasalahan yang muncul pada saat tutorial. Pada kegiatan ini beberapa kelompok ditunjuk untuk presentasi hasil diskusi pada saat  tutorial (sebagai trigger diskusi), dilanjutkan dengan tanggapan para pakar. Pada kesempatan ini diharapkan peserta didik mendapatkan penjelasan dan pengetahuan dari para pakar terhadap masalah-masalah yang belum dipahaminya.

 

 

e.      Evaluasi

Evaluasi hasil belajar peserta didik BBM ini meliputi:

a.       Penilaian terhadap aspek komunikasi dalam tutorial (formatif)  meliputi aktivitas saat diskusi, keterampilan berkomunikasi, dan kehadiran.

b.      Penilaian terhadap pengetahuan (sumatif) adalah relevansi pembicaraan, dengan memberi kontribusi 20% dari nilai blok.

 

4.      PENUTUP

Program tutorial BBM yang dilaksanakan ini memerlukan partisipasi dan komitmen dari seluruh komponen baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, kerjasama dan tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat sangat diharapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENILAIAN TUTORIAL

BELAJAR BERDASARKAN MASALAH  (BBM )

BLOK ……..SEMESTER………

Kelompok        :                                                           Tutorial ke        :

Nama Tutor      :                                                           Tanggal            :

 

NO

PERIHAL

UNSUR PENILAIAN

Sumatif

Formatif

1

Relevansi Pembicaraan

 

 

2

Keterampilan Komunikasi

 

 

3

Aktivitas saat diskusi

 

 

4

Kehadiran

 

 

 

Catatan:

 

 

 

 

 

DASAR PENILAIAN

A. PENILAIAN FORMATIF

I.                    AKTIVITAS SAAT DISKUSI

Dinilai dari frekuensi mengajukan pendapat/masukan/komentar/jawaban

1 = pasif                                         4  =  aktif

2 = kurang aktif                              5  =  sangat aktif

3 = cukup aktif

II.                 KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI

Dinilai dari kemampuan beriinteraksi dengan peserta lain: tidak emosional/ memotong pembicaraan orang lain/mendominasi diskusi, tunjuk jari bila mau menyampaikan pendapat/bertanya, memperhatikan saat peserta lain berbicara

1 = sangat kurang terampil              4 = terampil

2 = kurang terampil                         5 = sangat terampil

3 = cukup terampil

III.               KEHADIRAN

Dinilai dari kehadiran peserta di dalam kelompoknya masing-masing

1 = tidak hadir                    4 = terlambat 5 menit

2 = terlambat 30 menit        5 = teapt waktu

3 = terlambat 15 menit

B. PENILAIAN SUMATIF

IV.               RELEVANSI PEMBICARAAN

Dinilai dari relevansi terhadap materi diskusi

76-100 = pembicaraan selalu relevan               1-25 = pasif

51-75   = pembicaraan kadang relevan             0      = tidak hadir

26-50   = pembicaraan kadang relevan     

PENDEKATAN PENILAIAN ACUAN NORMA (PAN) DAN PENILAIAN ACUAN PATOKAN (PAP)

DALAM STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

Oleh:

Didik Dwi Sanyoto

 

Pendahuluan

 

Untuk membantu  para  pendidik dalam  memilih  pendekatan penilaian  yang  cocok  untuk  mata  kuliahnya  sehingga  pengambilan  keputusan seorang mahasiswa dinyatakan lulus atau tidak lulus benar-benar sesuai dengan prestasi   yang   dicapainya   maka   setiap dosen perlu mengetahui dasar-dasar standar penentapan nilai tersebut. Pengambilan  keputusan  yang  tepat  oleh  seorang  dosen  di  dalam  menentukan tingkat  keberhasilan  mahasiswa  dalam mata kuliah tertentu akan  menentukan  indeks  prestasi  mahasiswa tersebut dan ini  akan  berdampak  terhadap  peningkatan  indeks  prestasi  mahasiswa secara umum. 

Dalam  makalah ini  akan  dijelaskan  secara  singkat tentang   jenis   pendekatan,   tujuan,  keuntungan dan kerugian dari dua metode pendekatan standar penilaian yang banyak dianut.

 

Isi

Terminologi

Standard adalah identifikasi poin-poin tertentu terhadap skala nilai dengan standar prestasi tertentu. Dengan kata lain standar adalah batas antara lulus atau tidak lulus, dimana sebagaian orang kompeten terhadap hal tertentu dan sebagian lagi tidak kompeten. Hasil suatu test secara umum adalah daftar nilai, dimana setiap nilai dalam beberapa hal merupakan indikator yang lemah terhadap sesuatu yang dirancang untuk diukur. Sehingga kita memerlukan beberapa cara dalam mengurangi kelemahan ini dengan berbagai jenis test dan jenis standar nilai1.

Pengukuran tingkat pencapaian belajar mahasiswa dan penentuan standar nilai (grading) dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) atau norm-referenced methods dan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau criterion-referenced methods. Metode PAP terbagi menjadi dua yaitu metode yang absolut dan metode kompromi. Dalam metode absolut terbagi lagi dalam berpusat pada test (test centered) termasuk didalamnya adalah metode Angoff dan metode Ebel, dan berpusat pada orang yang diuji (examinee centered) yang termasuk didalamnya adalah metode kelompok contrasting dan metode kelompok bonderline. Sedangkan metode kompromi adalah metode Hofstee. Namun ada juga yang memasukkan metode kelompok bonderline kedalam metode kompromi.

 

Diskusi

Penilaian Acuan Norma (PAN)

Penilaian Acuan Norma (PAN) adalah pendekatan penilaian yang membandingkan hasil pengukuran seseorang dengan hasil pengukuran yang diperoleh orang orang lain dalam kelompoknya2.

Tujuan

Tujuan utama penggunaan PAN adalah untuk mengklasifikasikan mahasiswa. PAN dirancang untuk  membedakan tingkat pencapaian nilai mahasiswa dan untuk membuat rangking pencapaian prestasi mahasiswa tersebut dari yang tinggi sampai yang rendah. Sistem ini dapat menempatkan mahasiswa dalam kelompok mengulang atau kelompok berbakat. Metode ini juga digunakan oleh dosen dalam menyeleksi mahasiswa untuk membedakan tingkat kemampuan tertentu didalam kelompok atau kelas tersebut3. PAN dikenal juga dengan grade dengan kurva normal, sebab skor dibuat dalam distribusi normal (gambar 1).

Fungsi

Digunakan ketika mahasiswa harus dirangking untuk menentukan jumlah mahasiswa yang diterima oleh sebuah lembaga pendidikan3.

Cara

Dosen yang menggrade dengan PAN harus menghitung nilai rata-rata kelas (x) dari hasil ujian  kemudian menghitung standar deviasinya (SD). 50% nilai diatas rata-rata dan 50% nilai dibawah rata-rata. Kemudian dari masing-masing bagian, ada yang ditambah 1 SD dari ni dan ada yang ditambah 2 SD dari meannya. Begitu juga sebaliknya. Nilai yang tertinggi yaitu x + 2 SD akan mendapat nilai angka A, dan nilai terendah yaitu x – 2 SD akan mendapat nilai angka F (lihat gambar 1). Ini merupakan contoh penggunaan grade skala 5.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. kurve distribusi nilai dengan menggunakan PAN3

 

Jika ingin menngunakan skala 7, maka dapat dibuat batas nilai adalah sebagai berikut:

 

Batas Daerah Dalam Kurve

Nilai    Huruf

> x + 1.5 SD

A

x + 1 SD    —— x + 1.5 SD

B+

x + 0.5 SD —— x + 1 SD

B

x                —— x + 0.5 SD

C+

x – 0.5 SD —— x

C

x – 1.5 SD —— x – 0.5 SD

D

< x – 1.5 SD

F

 

Keuntungan penggunaan metode PAN4,5

  1. Tidak perlu mengembangkan seluruh item baru untuk setiap bentuk test.
  2. Mudah digunakan dan dimengerti
  3. Dapat dengan mudah diterapkan oleh pemula
  4. skala vertikal dimungkinkan dengan NRT yang menunjukkan perkembangan siswa dari tingkat ke tingkat.

Kerugian penggunaan metode PAN4

  1. Metode ini memberi sedikit informasi tentang kemampuan mahasiswa, sebab dibandingkan dengan kelompoknya.
  2. Nilai ambang batas lulus (cut score) yang ditentukan akan berubah-ubah disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelompok.

 

 

 

Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah pendekatan penilaian yang membandingkan hasil pengukuran seseorang dengan patokan “batas lulus” yang telah ditetapkan oleh dosen2.

Tujuan

Untuk menentukan apakah seorang mahasiswa, yang sesuai dengan tingkatanya sudah menguasai tujuan instruksional yang telah ditetapkan oleh fakultas atau yang ada didalam kurikulum2. Dosen dapat memilih PAP bila mereka ingin mengetahui sejauh mana mahasiswa telah mengusai suatu pengetahun atau keterampilan yang diharapkan dapat dicapai. Dalam penggunaanya PAP harus terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan yaitu batas lulus (cutoffs). Jika dosen telah menetapkan nilai ujian antara 90%-100% dari standar akan mendapat nilai angka A, maka siapapu yang nilai ujiannya mencapai 90% akan mendapat nilai A. Jika seluruh kelas nilai ujiannya yang tertinggi hanya 80% dari standar maka tidak ada satupun yang mendapat nilai angka A (lihat gambar 2)3.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. kurve distribusi nilai dengan menggunakan PAP

 

Akan tetapi PAP dapat menyebabkan distribusi nilai tidak merata sehingga menyebabkan abnormal atau kecondongannya pada salah satu sisi. Misalnya mahasiswa seluruh kelas mendapat nilai dibawah 60% dari standar maka kurva akan condong ke kiri.

Dalam perkembangannya, penggunaan metode PAP memiliki banyak  pendekatan yang semuanya menggunakan ahli yang diperlukan untuk memutuskan (expert judge). Untuk itu syarat untuk menjadi seorang expert judge adalah6:

  1. ahli dalam bidang yang berhubungan dengan ujian yang dimaksud.
  2. terbiasa dengan metode ujian
  3. seorang pemecah maasalah yang baik
  4. terbiasa dan mengetahui tingkat mahasiswa
  5. tertarik dalam bidang pendidikan

Penilaian acuan patokan yang berpusat pada test

1. Metode Angoff4,6,7

Dalam metode ini setiap expert judge harus mendiskusikan ciri-ciri dari bonderline examine yaitu kompetensi minimal yang dimiliki oleh siswa. Kemudian ciri dari kualitas dari borderline examinee tersebut disepakati. Setiap expert judge mengestimasi soal demi soal, dan memberi proporsi minimal dari soal tersebut, berapa banyak siswa yang mampu menjawab benar. Hasil penjumlahan dari rata-rata setiap item soal dari setiap expert judge merupakan nilai batas lulus (cut scores) (contoh lihat tabel.1). Dari contoh seperti pada tabel.1, nilai cut score-nya  adalah 3/5 dari total nilai. Jika total nilai ujian tersebut adalah 100, maka cut score ujian tersebut adalah 3/5 x 100 = 60.  

Tabel 1: Bagaimana menentukan cut-score dengan menggunakan metode  Angoff untuk 5 item soal dan 5 anggota expert judge4

 

 

 

 

 

 

 

2. Metode Angoff yang telah dimodifikasi6

Beberapa penelitian terhadap expert judge dalam metode Angoff menunjukkan bahwa standar yang mereka inginkan (sesuai teori) ternyata berbeda dengan kenyataannya dan secara umum expert judge cenderung menghasilkan standar yang terlalu tinggi. Untuk itu diperlukan modifikasi dari metode Angoff. Data performance mahasiswa yang actual diberikan pada expert judge sebagai sumber informasi tambahan. Kegiatan penentuan nilai lulus dilakukan dalam beberapa kali putaran untuk meningkatkan interaktive proses diantara expert judge. Setiap expert judge harus mengestimasi apakah item soal tersebut dapat dijawab oleh satu orang borderline examinee atau tidak. Dari total jawaban ya dari setiap expert judge lalu dijumlahkan dengan hasil estimasi expert judge yang lain. Hasilnya merupakan nilai batas lulus.

 

3. Metode Ebel4

Dalam metode ini ada dua tugas yang harus dilakukan oleh expert judge, yaitu:

Tugas I: mengklasifikasikan setiap item soal kedalam

  1. tingkat kesulitan, apakah termasuk mudah, sedang dan sulit.
  2. Relevansi, apakah sangat penting, penting, kurang penting dan tidak penting.

Tugas II:

  • Berkonsensus terhadap kualitas borderline examinee
  • expert judge mengestimasi setiap kotak; berapa banyak soal yang ada termasuk dalam kotak tertentu dan berapa persen mahasiswa yang mampu menjawab pada kotak tersebut.
  • Contohnya (lihat tabel 2) expert judge merasa bahwa 20 soal yang termasuk sangat penting dan mudah akan dapat dijawab dengan benar oleh mahasiswa sebesar 75%.
  • Hasil dari penjumlahan setiap kotak dirata-ratakan, hasilnya merupakan batas nilai lulus. Dalam contoh dibawah, batas lulusnya adalah 50% dari skor maksimal (nilai 50).

Tabel 2:  Bagaimana menentukan cut-score dengan menggunakan metode Ebel untuk 100 soal ujian4

 

 

 

 

 

 

 

Penilaian acuan patokan yang berpusat pada siswa yang diuji

1. Metode kelompok berlawanan (contrasting)4

Expert judge menelaah performance setiap mahasiswa dan menentukan apakah ia termasuk kelompok qualifikasi atau non qualifikasi untuk lulus dari ujian tersebut, sehingga akan terbentuk 2 kelompok. Hasil ujian dari masing-masing kelompok diplotkan dalam grafik. Nilai yang membedakan dari kedua kelompok tersebut (terlihat dari perpotongan kurva pada contoh gambar 3) merupakan nilai batas lulus (cut score).

 

 

 

 

 

 

                                                      

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. contoh bagaimana menentukan cut-score menggunakan metode kelompok berlawanan4.

 

2. Metode kelompok bonderline 4

Expert judge menelaah performance setiap mahasiswa dan mengidentifikasi mahasiswa yang termasuk kelompok borderline yaitu mereka yang mempunyai minimal performance. Nilai dari kelompok ini kemudian diplot dalam grafik. Nilai median yang didapatkan digunakan sebagai nilai batas lulus (cut-score).

 

Penilaian Acuan Patokan yang bersifat kompromistik

Metode Hofstee6

Metode ini merupakan penggabungan antara prosedur penentuan standar relative dan absolut. Expert judge mempelajari materi soal, kemudian mereka harus menentukan masing-masing empat nilai, yaitu:

1.      Persentase terendah yang dapat diterima dari kegagalan ujian (persen kegagalan minimum)

2.      Persentase tertinggi yang dapat diterima dari kegagalan ujian (persen kegagalan maksimum)

3.      Nilai terendah yang didapat mahasiswa untuk lulus (nilai lulus minimum)

4.      Nilai tertinggi yang didapat mahasiswa untuk lulus (nilai lulus maksimum)

Nilai median dari seluruh Expert judge untuk masing-masing nilai diatas diplot dalam grafik. Lalu tarik garis diagonal dari nilai lulus minimum ke nilai lulus maksimum. Kemudian hasil ujian mahasiswa yang telah didapatkan, diplot kedalam grafik yang sama. Perpotongan antara garis kurva nilai mahasiswa dengan garis diagonal tersebut merupakan nilai batas lulus (cut-score).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. contoh plot angka pada metode Hofstee6

 

Keuntungan metode PAP7

  1. Fokus perhatian pada isi soal
  2. metode yang ideal untuk tes yang bersifat “high stakes

Kerugian metode PAP7

  1. Konsep tentang borderline examinee mungkin sulit didefinisikan dengan jelas
  2. Memakan waktu dan biaya
  3. Metode dapat membosankan
  4. Expert judge bisa tidak percaya diri dalam menentukan performa orang yang diuji.

 

Kesimpulan

            Pengukuran tingkat pencapaian belajar mahasiswa dan penentuan standar nilai (grading) dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) atau norm-referenced methods dan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau criterion-referenced methods,  dimana keduanya memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Untuk itu dosen diharapkan mampu memilih standar penilaian apa yang akan digunakan disesuaikan dengan tujuan dari ujian tersebut. Pemilihan yang kurang tepat bisa berdampak kurang baik bagi siswa, dosen dan institusi.

Daftar Pustaka

 

  1. Dylan, W. 1996. Meanings and consequences in standard setting, Assessment in Education. Principles, Policy & Practice, 0969594X, Nov, Vol. 3, Issue 3.
  2. Bond L.A. 1996. Norm and Criterion-referenced testing. Practical assessment, research & evaluation, 5 (2).
  3. Aviles, C.B. 2001. Grading with norm-referenced or criterion-referenced measurement: to curve or not curve, that is the question. Social work education, vol. 20, No.5. pg. 603-608.
  4. De Champlain, A.F. 2004. Ensuring that the competent are truly competent: An  Overview of Common Methods and Procedures Used to Set Standard on High-Stakes Examination. Research and Education Reports, JVME 31 (1), pg. 62-66.
  5. Jorgensen,M.A., & McBee,M. 2003. The new NRT Model. Assessment report, Harcourt Assessment.
  6. Ben-David, M.F. 2000. AMEE Guide No.18: Standard setting in student assessment. Medical Teacher, Vol. 22, no. 2, pg. 120-130.
  7. George, S., Haque, M.S., Oyebode, F. 2006. Standard setting: Comparison of two methods. BMC Medical Education, vol.6:46.

Desain Unit BK

Desain Unit Bimbingan dan Konsultasi

Pada Fakultas Kedokteran UNLAM

 

Didik Dwi Sanyoto

 

Pendahuluan

            Mahasiswa kedokteran tidak lepas dari berbagai persoalan dan tekanan, yang kesemuanya dapat menyebabkan stress. Persoalan-persoalan yang ada termasuk ujian, persaingan diantara mahasiswa, banyaknya tugas yang harus diselesaikan, waktu kegiatan yang begitu padat, tidak bisa membagi waktu, kesulitan dibidang keuangan, adanya masalah dalam hubungan antar mahasiswa dan masih banyak lagi. Berbagai penelitian mendukung pendapat bahwa sekolah kedokteran perlu mendorong mahasiswanya dalam mengidentifikasi tantangan yang terkait dengan kebutuhan mereka selama studi di sekolah kedokteran, khususnya selama fase transisi pada saat awal-awal studi (Kiessling, et al, 2004). Penelitian Guthrie et al. melaporkan lebih dari 50% mahasiswa tahun pertama mengalami stress yang berhubungan dengan tugas-tugas perkuliahan (Dent & Rennie, 2005).

            Dalam mengatasi berbagai persoalan mahasiswa diatas, sudah saatnya institusi kedokteran memiliki sebuah lembaga atau unit yang memfokuskan pada konseling dan bimbingan bagi mahasiswa. Pendidikan sebagai sebuah usaha sadar manusia dalam menggali dan mengembangkan potensi-potensi mahasiswa, sudah seharusnya sadar akan pentingnya unit bimbingan dan konseling. Dengan kata lain, bimbingan yang dilakukan dalam pendidikan formal dalam hal ini institusi kedokteran perlu dikelola secara profesional.

            Fakultas Kedokteran UNLAM, sebagai salah satu institusi pendidikan dokter di Indonesia, merencanakan penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) pada tahun 2008 ini dengan strategi pengajaran berupa student center dan problem based, dimana dengan strategi ini peran mahasiswa untuk mengatur dirinya sendiri dalam belajar sangat besar. Sumber stres bagi mahasiswa antara lain berbagai tugas yang harus diselesaikan oleh mahasiswa terkait dengan pencapaian kurikulum. Untuk itu perlu adanya program bimbingan dan konseling yang dapat membawa mahasiswa melalui berbagai rintangan dan tantangan diatas. Dalam tulisan ini, penulis akan merancang program bimbingan dan konseling mahasiswa pada Fakultas Kedokteran UNLAM.

 

Isi

Tahap-tahap perancangan program bimbingan dan konseling meliputi:

  1. Penyusunan manajemen dan organisasi Bimbingan dan Konseling
  2. Penyusunan SDM yang dibutuhkan
  3. Merancang strategi dan metode kegiatan
  4. Merancang sarana dan prasarana
  5. Evaluasi Kegiatan

 

1. Penyusunan manajemen dan organisasi Bimbingan dan Konseling

            Untuk dapat mencapai tujuan dan fungsi yang ditetapkan dalam organisasi, beberapa sekolah kedokteran melakukan pengembangan struktur organisasi baru termasuk didalamnya pembentukan organisasi unit bimbingan dan konseling. Unit bimbingan dan konseling ini direncanakan berada langsung dibawah kendali Pembantu Dekan I. Dosen Pembimbing Akademik (PA) berada dalam koordinasi unit ini.

1.1. Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling (BK) adalah proses pemberian bantuan secara sistematis dan intensif kepada mahasiswa dalam rangka pengembangan pribadi, sosial, studi dan karirnya demi masa depannya yang dilakukan oleh dosen yang bertugas khusus untuk itu.

A. Tujuan Bimbingan dan Konseling
Membantu mahasiswa dalam :

  1.  
    1. Mewujudkan potensi dirinya secara optimal, baik untuk kepentingan dirinya maupun masyarakat.
    2. Menyesuaikan diri dengan tuntunan lingkungan secara konstruktif.
    3. Memecahkan persolan yang dihadapinya secara realistis.
    4. Mengambil keputusan mengenai berbagai pilihan secara rasional.
    5. Melaksanakan keputusan secara konkrit dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah ia ambil.
    6. Menyusun rencana untuk masa depan yang lebih baik.

B. Fungsi dari Bimbingan dan Konseling adalah sebagai berikut :

a.       Penyaluran adalah fungsi bimbingan dalam membantu mahasiswa mendapatkan lingkungan yang sesuai dengan keadaan dirinya.

b.      Penyesuain adalah fungsi bimbingan dalam rangka membantu mahasiswa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

c.       Pencegahan adalah fungsi bimbingan dalam rangka membantu mahasiswa menghindari kemungkinan terjadinya hambatan dalam perkembangan.

d.      Pengembangan adalah fungsi bimbingan dalam membantu mahasiswa mengembangkan dirinya secara optimal.

e.       Perbaikan adalah fungsi bimbingan dalam membantu mahasiswa memperbaiki kondisinya yang dipandang kurang memadai.

f.        Pengadaptasian adalah fungsi bimbingan dalam membantu institusi  menyesuaikan kebijaksanaan dengan keadaan mahasiswa.

1.2. Penasehat Akademik

Penasehat Akademik (PA) adalah dosen yang memberikan bantuan berupa nasehat akademik kepada mahasiswa, sesuai dengan program studinya berdasar kemampuan yang ada, sehingga program studinya selesai dengan baik.

Penasehat Akademik bertugas :

1. Memberikan informasi tentang pemanfaatan sarana dan prasarana penunjang bagi 

    kegiatan akademik dan non akademik.

2. Membantu mahasiswa dalam mengatasi masalah-masalah akademik. Tiap semester,

    dosen PA harus memperhatikan hasil belajar mahasiswa asuhannya.

3. Membantu mahasiswa dalam mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik

    sehingga tumbuh kemandirian belajar sebagai seorang ahli.

4. Memberi rekomendasi tentang tingkat keberhasilan belajar mahasiswa untuk keperluan

    tertentu.

6. Membantu mahasiswa mengembangkan wawasan belajar keilmuan secara mandiri.

7. Jika dalam kepenasehatan ada permasalahan yang dirasakan sulit untuk dipecahkan oleh dosen PA, maka mahasiswa dapat dirujuk pada konselor di unit bimbingan dan konseling.

Pada saat registrasi akademik setiap awal semester, Dosen PA berkewajiban melaksanakan tugas kepenasehatanya dengan kegiatan antara lain :
a. Memproses pengisian KRS dan tanggung jawab atas kebenaran isinya .
b. Menetapkan kebenaran jumlah kredit yang boleh diambil mahasiswa dalam semester

    yang bersangkutan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku.
c. Meneliti dan memberi persetujuan terhadap studi semester yang disusun oleh

    mahasiswa dalam KRS.
d. Pada saat memutuskan jumlah beban studi PA wajib memberikan penjelasan

     secukupnya atas keputusan tersebut agar mahasiswa dapat menyadari dan menerima

     putusan tersebut dengan penuh perhatian.

Kegiatan kepenasehatan dalam bidang akademik dikoordinir oleh PD I, sedang dalam masalah non akademik dikoordinir oleh PD III.

Administrasi kepenasehatan dikembangkan melalui berbagai kartu. Jenis dan kegunaan kartu tersebut harus dipahami oleh Penasehat Akademik.
Yang dimaksud dengan kartu adalah :
1). Kartu Rencana Studi (KRS) Yang mencatat semua mata kuliah yang diprogramkan

     (diambil oleh mahasiswa yang bersangkutan) pada masing-maing semester.
2). Kartu Perubahan Rencana Studi (KPRS) yang mencatat semua perubahan

     pengambilan beban berban studi setelah diadakan konsultasi.
3). Kartu Hasil Studi (KHS) yang mencatat nilai yang diperoleh mahasiswa bagi mata

     kuliah yang diprogram dalam KRS.
4).
Kartu Perkembangan Akademik Mahasiswa (KPAM) yang digunakan untuk mencatat

     data pribadi mahasiswa.

 

2. Penyusunan SDM yang dibutuhkan

            Dari tugas, fungsi dan kewajiban yang harus dilakukan oleh unit bimbingan dan konsultasi, maka diperlukan dosen yang mengerti betul akan proses bimbingan serta kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa kedokteran. Tim yang terlibat dalam unit ini akan terdiri dari minimal seorang konselor yang berlatar belakang psikologi terutama psikologi pendidikan, seorang konselor berlatar belakang psikiater (dari dosen FK UNLAM). Kedua ahli ini didapatkan dengan bekerjasama dengan rumah sakit jiwa Banjarmasin yang merupakan rumah sakit jiwa rujukan dan rumah sakit pendidikan satelit dari FK UNLAM. Ahli lain yang diperlukan adalah seorang dosen dengan latar belakang master pendidikan kedokteran, yang diharapkan mampu memberikan masukan pada kasus yang berkaitan dengan sistem pendidikan dan kurikulum.

            Kompetensi yang diperlukan oleh seorang konselor dalam unit bimbingan dan konsultasi (BK) FK UNLAM adalah:

  1. Pengetahuan dan keterampilan dalam memotivasi
  2. Keterampilan dalam pengembangan diri
  3. Keterampilan dalam problem solving

Sedangkan kompetensi seorang ahli pendidikan yang bertugas sebagai konselor adalah:

  1. Pengetahuan akan kurikulum yang sedang berjalan
  2. Kemampuan dalam memberikan solusi dalam keterampilan belajar
  3. Kemampuan dalam pengembangan karir

 

3. Merancang strategi dan metode kegiatan

      Untuk menentukan strategi dan metode yang tepat dalam kegiatan pada unit ini, maka perlu diidentifikasi permasalahan yang umumnya terjadi pada mahasiswa. Menurut Dent & Rennie (2005) permasalahan yang sering muncul dikategorikan dalam 5 hal yaitu:

  1. Masalah akademik
  2. Masalah karir
  3. Masalah profesional
  4. Masalah personal
  5. Masalah administrasi

Dalam mengatasi masalah akademik ini, lini pertama yang menangani adalah dosen PA. Pertama-tama dosen PA akan melakukan identifikasi permasalahan akademik. Jika sudah menemukan pokok permasalahannya, dosen PA akan memberikan solusi pemecahan terhadap permasalahan akademik mahasiswa didiknya. Disamping itu dosen PA dapat juga memberikan umpan balik terkait hasil-hasil ujian, memberikan solusi teknik belajar maupun memberikan arahan dalam pengambilan mata kuliah tertentu. Metode yang digunakan dengan interview langsung atau dengan membuka kotak suara atau email yang bersifat personal. Jika dalam proses ini ditemukan permasalahan lain diluar bidang akademik, dosen PA dapat mengkonsulkan pada konselor.

Dalam masalah karir, unit ini dapat memberikan gambaran tentang informasi karir baik dengan poster atau dengan website dari unit BK yang dapat diakses melalui Local area network  dan internet. Jadi strategi yang digunakan lebih bersifat memberikan informasi.

Untuk masalah profesional dan personal strategi yang diterapkan adalah dengan interview personal atau kelompok.

Masalah administrasi diatasi dengan menyediakan berbagai informasi terkait akademik, baik berupa buku pedoman akademik, peraturan-peraturan, buku blok maupun buku pedoman bimbingan dan konseling.

 

4. Merancang Sarana dan Prasarana

            Dalam memenuhi fungsi dan tugas yang harus dilakukan unit BK maka diperlukan penyiapan sarana dan prasarana yang memadai. Ruang bagi unit ini tergabung dalam MEU. Ruang konsultasi dibuat sedemikian rupa agar terkesan santai tetapi tetap bersifat personal. Untuk menyimpan file-file mahasiswa yang berkonsultasi,  diperlukan ATK dan seperangkat komputer agar administrasi tertata rapi dan mudah dicari,.

            Prasarana lain yang perlu disiapkan adalah website unit BK, yang berisi fungsi dan tugas unit ini dan dosen PA. Dalam website ini juga memuat nomor telpon yang bisa dihubungi oleh mahasiswa jika ingin berkonsultasi. Berbagai informasi baik akademik, informasi karir dan informasi profesional dapat dimasukkan dalam website ini. Selain itu website ini juga menyediakan forum diskusi online antara konselor dengan mahasiswa, hal ini dapat mengakomodasi mahasiswa yang enggan jati dirinya diketahui oleh orang lain.

 

5. Evaluasi Kegiatan

Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh unit BK termasuk kegiatan dosen PA, akan dievaluasi oleh tim internal BK dan tim evaluasi dari unit jaminan mutu Fakultas.  Mahasiswa dapat membantu unit BK dalam mengevaluasi kinerja unit ini melalui pengisian kuesioner atau dengan kotak saran atau email. Hal ini lebih memudahkan administrasi, manajemen data dan laporan. Sistem elektronik  yang digunakan ini dapat mempercepat  laporan evaluasi yang komprehensip. Hasil dari evaluasi kegiatan akan menjadi masukan bagi unit BK dalam menentukan strategi dan metode yang tepat dalam proses kegiatannya.

 

Kesimpulan

            Mahasiswa kedokteran sering mengalami tekanan dalam proses belajar di institusi kedokteran. Berbagai usaha harus dilakukan oleh manajemen institusi kedokteran dalam mendukung mahasiswa melewati tekanan tersebut, yang salah satunya dengan membangun unit BK. Diharapkan dengan perancangan program unit BK di Fakultas Kedokteran UNLAM, maka mahasiswa FK UNLAM mampu menjalani proses pendidikan dengan baik dan dapat lulus sesuai dengan kompetensi dokter dengan tepat waktu.

 

 

Daftar Pustaka

 

1. Kiessling, C., Schubert, B., Scheffner, D., & Burger, W. 2004. Persepsi Mahasiswa

    Tahun Pertama Terhadap Stress dan Dukungan: Perbandingan Antara Kurikulum Yang

    Baru dan Tradisional Medical Education (38): 504-509

 

2. Dent, J.A., & Rennie, S. 2005. Stuudent Support. A Practical Guide For Medical

    Teachers. Dent & Harden Editors. Elsevier Churchill Livingstone.

 

3. Buku Pedoman dan peraturan akademik FK UNLAM Banjarbaru, 2006.

Kegiatan Akademis

       Proses pengayaan ilmu yang diselenggarakan dalam KBK terdiri dari beberapa bentuk

       kegiatan pembelajaran yaitu:

 

   1.Diskusi kelompok (Diskusi Tutorial).

               Adalah kegiatan pembelajaran melalui diskusi kelompok kecil yang terdiri dari 8 – 12 mahasiswa, dibimbing oleh tutor dan wajib diikuti oleh mahasiswa. Kegiatan ini dilaksanakan kurang lebih 2 kali seminggu, masing-masing 2 jam pelajaran. Mahasiswa akan dinilai keaktifannya, keilmuannya, cara berdiskusi dan kehadiran  dalam diskusi oleh tutor dan nilai ini akan berkontribusi pada nilai akhir blok. Kehadiran dalam diskusi tutorial menjadi syarat mengikuti ujian akhir blok. Untuk mencapai tujuan pembelajaran digunakan metode tujuh langkah (seven jump). Pada pertemuan pertama diskusi mencakup langkah 1-5 dan langkah selanjutnya dilaksanakan pada pertemuan kedua. Pertemuan I dan II memakai skenario yang sema sebagai pemicu belajar.   

2. Kuliah Pakar

Merupakan kuliah yang diberikan oleh pakar yang berhubungan dengan materi blok. Kuliah diberikan secara klasikal di ruang kuliah. Kehadiran mahasiswa dalam kuliah minimal 80% dari seluruh perkuliahan menjadi syarat untuk mengikuti ujian akhir blok. Dibandingkan dengan kurikulum konvensional yang berdasarkan pada kuliah umum, jumlah perkuliahan dalam KBK dikurangi untuk memberikan tambahan waktu untuk belajar mandiri. Perkuliahan disusun berdasarkan topik-topik dalam blok. Perkuliahan dalam KBK digunakan untuk klarifikasi dan konfirmasi tujuan pembelajaran yang telah teridentifikasi, sehingga kuliah menjadi lebih interaktif.

3. Praktikum di Laboratorium Biomedik

Merupakan proses pembelajaran di laboratorium yang dibimbing oleh dosen dan asisten mahasiswa. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi yang berhubungan dengan skenario maupun blok yang sedang berjalan. Mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Keikutsertaan kegiatan praktikum menjadi syarat mengkuti ujian responsi praktikum dan kelulusan ujian praktikum menjadi syarat mengikuti ujian atau syarat keluarnya nilai akhir blok.

4. Praktek Keterampilan Klinik (skill lab)

Merupakan kegiatan praktik keterampilan klinik pada laboratorium keterampilan (skill lab). Keterampilan yang diajarkan meliputi keterampilan komunikasi, keterampilan pemeriksaan fisik, keterampilan prosedural dan keterampilan laboratorium. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan tersebut sejak tahun pertama masuk di FK. Praktikum keterampilan klinik ini berjalan secara komprehensif sesuai dengan topik blok. Evaluasi keterampilan klinik dilakukan dengan OSCE (objective structure clinical examination) untuk tiap blok.

5. Mandiri

yaitu kegiatan yang harus dilakukan mahasiswa secara man­diri untuk mendalami, mempersiap­kan, atau tujuan lain suatu tugas akademik, misalnya membaca buku referensi, mengkaji bahan-bahan dalam buku wajib dan sejenisnya.

6. Pengenalan Klinik dan Komunitas.

Proses ini merupakan kegiatan yang bertujuan mengenalkan mahasiswa secara dini pada kasus-kasus klinik atau komunitas, bisa berupa observasi langsung pasien di rumah sakit, puskesmas, panti, posyandu atau kunjungan rumah. Pengenalan kasus klinik juga bisa dengan tayangan dari audiovisual.

7. Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Karya Tulis Ilmiah adalah laporan penelitian yang disusun oleh seorang mahasiswa untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked). Tatacara Pengajuan Permohonan dan Persyaratan Teknis Penulisan mengikuti ketentuan tata cara pengajuan permohonan dan tata cara penulisan  seperti tertera pada Buku Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

8. Kepaniteraan klinik (Panklin) di Rumah Sakit dan puskesmas

Dalam kegiatan kepaniteraan (rotasi klinik) mahasiswa berkesempatan mempraktekkan ilmu/teori yang telah dipelajari selama pendidikan sarjana.

       1).   Panklin adalah pendidikan untuk peserta didik yang telah lulus pendidikan tahap akademis kedokteran dan telah bergelar Sarjana Kedokteran (S.Ked), yang dilaksanakan di rumah sakit, puskesmas atau

               di lapangan, guna menghasilkan lulusan yang menguasai keahlian dalam profesi dokter.

2).  Panklin bertujuan untuk mendidik seorang Sarjana Kedokteran (S.Ked)

       menjadi seorang dokter yang sesuai dengan tujuan pendidikan dokter   

       di Fakultas Kedokteran UNLAM.

3).  Beban studi di dalam program pendidikan Panklin adalah 36 sks.    

                

KETERAMPILAN BELAJAR (study skills) dalam KBK FK UNLAM 2008

 

Keterampilan belajar merupakan dasar-dasar agar mahasiswa dapat melalui pendidikan di institusi kedokteran dan sukses dalam studinya. MEU sebagai pusat pendidikan kedokteran akan mengembangkan strategi khusus yang dapat menghantarkan mahasiswa menuju cita-citanya. Untuk itu MEU menyediakan berbagai topik yang diajarkan terkait dengan keterampilan belajar. Keterampilan belajar ini disajikan dalam fase I pendidikan dokter. Topik yang disiapkan antara lain:

 

 

Blok 1 Respirasi:

  1. Dasar-dasar komunikasi (kuliah 1×50 menit)
  2. Seven jump (praktikum 3x 50 menit)
  3. Skill lab (kuliah 1x 50 menit)
  4. Penelusuran Informasi Kesehatan melalui internet (searching internet) (praktikum gabung 3×50 menit)

 

Blok 2 Kardiovaskuler:

  1. Speed reading & Taking notes (kuliah 1×50 menit)
  2. Dinamika kelompok (kuliah 1×50 menit)

 

 

Blok 3 Musculosceletale:

  1. Learning resources (kuliah 1×50 menit)
  2. manajemen waktu (praktikum 3×50 menit)
  3. menerima dan memberikan umpan balik (kuliah 1 x50 menit)

 

 

Blok 4 Endokrin & Metabolisme:

  1. self assessment (praktikum)
  2. critical thinking (terkait bahan-bahan hasil penelusuran) (praktikum 3×50 menit)

 

Blok 5 Digesti:

  1. problem solving (kuliah 1×50 menit)
  2. mind mapping (praktikum 3×50 menit)
  3. Membuat situs Web (blog) dan  e-mail (praktikum 3×50 menit)

 

 

Blok 8 Hemopoetik:

  1. mempersiapkan ujian (kuliah 1×50 menit)
  2. teknik persentasi (praktikum 3×50 menit)
  3. manajemen konflik (kuliah 1×50 menit)

 

Sebaran Skill Lab FK Unlam

Kurikulum Berbasis Kompetensi Tahun 2008

 

 

Tahun 1 (Fase 1)

Blok 1

Respirasi

 

 

           4 mgg

Blok 2

Kardio vaskuler

 

 

4 mgg

Blok 3

Musculo-

skeletal

 

4 mgg

Blok 4

Digestif

 

 

4 mgg

Blok 5

Endokrin

 

 

5 mgg

Blok 6

Neurosensoris & integumentum

 

5 mgg

Blok 7

Reproduksi & urogenital

 

5 mgg

Blok 8

Hemopoetik & limforetikuler

 

5 mgg

Skill Pemeriksaan Paru Dasar

1.  mengukur jumlah respirasi

2.  melatih teknik inspeksi,  palpation, perkusi dan auskultasi

skill :

Vital Sign

Mengukur temperatur,

palpasi nadi, pengukuran tekanan darah,

palpasi pulse arteri, capillary refill

 

Keterampilan

Komunikasi 1: latihan memberi salam dan mengenalkan diri Keterampilan komunikasi 2

(latihan empati) : memberi duduk

Keterampilan komunikasi 3 :  latihan tehnik bertanya, mendengar dan memberikan feedback

komunikasi 4: Latihan untuk memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama pemeriksaan fisik (ilustrasi)

 

 Skill pemeriksaan Abdomen Dasar:

Inspeksi abdomen

Auskultasi abdomen

Perkusi abdomen Palpasi abdomen

Keterampilan komunikasi 5:

Merespon verbal dan non verbal

 

Keterampilan komunikasi 6 : Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap,  dan jujur tentang tujuan, keperluan dan manfaat  dari prosedur sebelum dikerjakan

 

 

 

Skill: pemeriksaan sensibilitas

System Sensoris

Nyeri

Suhu

Reflex pupil

assessment of extinction phenomenon

Getaran 

assessment of position sense

assessment of discriminative sensations (e.g. stereognosis)

 

 

 

Pemeriksaan ginekologi:

1. inspeksi vulva dan perineum

palpasi cavum Dauglas

2. pemeriksaan inspekulo

(pemeriksaan vagina dan servix)

3. pemeriksaan bimanual

( palpasi vagina, cervix, corpus uteri dan ovarium)

Skill: mengambil spesimen dan mewarnai dengan Gram dan Ziehl Nielsen stain (lab mikrobiologi)

Skill: keterampilan menggunakan mikroskop

(Lab Biologi/ Histologi)

Skill Pemeriksaan Jantung Dasar

Skill pemeriksaan

lokomosi :

  1.      inspection muscle tone

  2.      inspection of joints

  3.      palpation tendons, joints

  4.      assessments of range of motion of joints

Inspeksi: postur, gerakan yang beraturan

Skill:

Inspeksi daerah perianal

Pemeriksaan rektum  (RT)

 

Inspeksi leher

Pemeriksaan tiroid

Palpasi trachea

Inspeksi oral cavacity (lidah, buccal, tonsil)

 

Pemeriksaan Kelenjar Saliva

Skill

refleks fisiologis (Dewasa):

1. Reflek tendon (biceps, triceps, knee, & ankle)

2. Respon plantar

3. Reflek abdomen

4. cremaster reflex

5. Reflek anal

 

Skill: Pemeriksaan Urin rutin

Pregnant test urine

(Lab Patologi Klinik)

Skill: Pemeriksaan darah rutin (Hb, Lekosit, LED, CT/BT), apusan darah (Lab Patologi Klinik)

 

 

1. Menilai habitus dan posture

2. Mengukur TB dan BB

3. mengukur Body Mass Index (BMI)

4. Mengukur status gizi 

Pembuatan preparat dan pemeriksaan feces (darah samar, protozoa, cacing)

(Lab Parasit)

 

Skill: Pemeriksaan gula darah, reduksi urine, protein urine, (Lab biokimia)

 

 

 

 

Skill : pemeriksaan saraf kranialis I: 

1. Sensasi bau/penghidu

2. Pemeriksaan otot wajah

3. Pemeriksaan otot temporal dan maseter

4. Pemeriksaan sensoris wajah

5. Sensasi rasa/pengecapan

Teknik Aseptic dan disinfection

 

 

 

 

 

Memberi solusi diet (Gizi)

Skill Pemeriksaan saraf cranial II:

1. assessment of swallowing

2. test gag reflex

3. Pemeriksaan otot sternomastoid dan trapezeus

4. Pemeriksaan lidah saat istirahat

5. Pemeriksaan motorik lidah

Pemeriksaan genitalia (penis, scrotum)

 

Pelvic examination

 

Inspection, palpasi breasts (SADARI)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun 2 (Fase 2)

Blok 9

Keluhan berkaitan dengan hematopoetik dan limforetikuler

 

6 minggu

Blok 10

Keluhan berkaitan dengan sistem respirasi

 

6 minggu

Blok 11

Keluhan berkaitan dengan sistem kardiovaskuler

 

6 minggu

Blok 12

Keluhan berkaitan dengan sistem  digesti

 

 

7 minggu

Blok 13

Keluhan berkaitan dengan sistem neuropsikiatri

 

 

7 minggu

Blok 14

Keluhan berkaitan dengan sistem sensori dan integumentum

 

7 minggu

venous cannulation (infus) dan

Rumple Leed test

Komunikasi 6:

Anamnesis gangguan sistem respirasi

 Komunikasi 7: anamnesis gangguan sistem kardiovaskuler

Komunikasi 9: Anamnesis system gangguan digesti

Komunikasi 10:

Anamnesis system gangguan neurology

Komunikasi 11:

Anamnesis gangguan kulit

administration of drugs:

1. intravenous

2. intramuscular

3. subcutaneous

4. intracutaneous

Skill:

pemeriksaan spirometri

(Lab Fisiologi)

Skill: pemeriksaan fisik jantung (kasus abnormal)

palpasi, perkusi, auskultasi) measurement of jugular venous pressure

auscultation (bowel, sounds, bruits) percussion (especially liver, Traube’s area palpation (abdominal wall, colon, liver, spleen, aorta, rigidity)

eliciting shifting dullness

bimanual kidney

Reflex patologis:

Babinski

Hoffmann

Caddock

Reflex meningeal

pemeriksaan fisik kulit

a. inspeksi dgn magnifying glass (menilai UKK)

c. inspeksi kuku

d. dermatografism

e. palpasi kulit

 

Test untuk sputum  (Lab Mikrobiologi)

ECG (Lab Fisiologi)

Pemasangan NGT

Pemeriksaan mata:

1. Corneal reflex

2. inspeksi pupil

3. reaksi pupil terhadap cahaya

 

 

 

 

 

Anamnesis gangguan mata

 

Pemeriksaan fisik paru (kasus abnormal) palpation of tactile fremitus percussion of lungs & lung bases auscultation of lungs

Membaca Rontgen Jantung

 

Penilaian terhadap kesadaran dengan  Glasgow coma scale (GCS)

Pemeriksaan mata

 

 

Membaca Rontgen Paru

 

 

Pemeriksaan status psikiatri

Anamnesis gangguan THT

 

 

 

 

 

Pemeriksaan THT Pemeriksaan fungsi pendengaran

 

 

 


Tahun 3 (Fase 2)

Blok 15

Keluhan berkaitan dengan sistem musculoskeletal

   

 

 

 

6 minggu

Blok 16

Keluhan berkaitan dengan sistem endokrin

 

 

 

 

 

6 minggu

Blok 17

Keluhan berkaitan dengan sistem urogenital

 

 

 

 

6 minggu

Blok 18

Keluhan berkaitan dengan sistem reproduksi

 

 

 

 

7 minggu

Blok 19

Keluhan berkaitan dengan gangguan tumbuh kembang

 

 

 

 

7 minggu

Blok 20

Pengelolaan masalah kesehatan dengan pendekatan kedokteran keluarga dan komunitas

 

7 minggu

Komunikasi 8:

Anamnesis gangguan system musculosceletale

Administrasi analgesi lokal (topikal, blok, infiltrat)

Komunikasi 12:

Kasus yang sensitif

Pemasangan IUD

Komunikasi 13: Allo anamnesis (riwayat makanan, kecemasan orang tua)

Transport of casualty

1. inspection of gait (normal, on heels, on toes, hopping in one place, heel-to-toe)

2. point-to-point testing: between index finger and nose

3. assessment of passive stretch

4. assessment of muscle strength

5. assessment of strength of individual muscles

 

 

 

 

Minor surgery I: Dasar-dasar bedah

Genital discharge :

PAP Smear dan swab vagina

(Lab PA)

Advise about Kontrasepsi (konseling)

Pemeriksaan fisik bayi (palpasi fontanella, moro respone, palmar grasp reflex, rooting reflex, suck reflex, stepping reflex, vertical suspension positioning, asymetric tonic neck reflex, anal reflex)

 

 

 

 

Surat Rujukan

to apply a dressing (sling, shoulder bandage, finger bandage, hand bandage)

Minor surgery II: incisi dan eksisi

Pemeriksaan Rectal dan

Palpasi prostat

ANC

1. Anamnesis

2. inspeksi wanita hamil

3. palpasi : TPU, Leopold manouvre

4. menilai denyut jantung janin (DJJ)

Pemeriksaan fisik Anak

Teknik Penyuluhan

to apply a dressing (leg bandage, foot bandage, ankle bandage, knee bandage)

Minor surgery III: sircumsisi

Pemasangan urethrae cateter pada pria dan wanita

Partus Normal

Deteksi dini tumbuh kembang (DDTK)

Membuat dan melaporkan Medical Record

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun 4 (Fase 2)

Blok 21

Elective

 

 

6 minggu

Blok 22

Kegawat daruratan

 

 

6 minggu

 

Blok 23

KTI

 

 

6 mgg

 

Komunikasi:

Memberitakan kabar buruk (bad news)

 

 

First Aid

 

 

Heimlich maneuver

 

 

RJP

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.